Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Sunday, May 21, 2017

KOMPARASI HUKUM ISLAM DAN TRADISI SASAK: TINJAUAN ADAT MERARI’ (KAWIN LARI)

Oleh: Suryanto*
 (NIM: 16350066_AS)
Pernikahan merupakan sunatullah yang umum dan berlaku untuk semua mahluk hidup yang ada di dunia ini, baik manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Pernikahan adalah suatu jalan atau cara yang dipilih oleh Allah SWT untuk mengembang biakkan dan melestarikan hidup mahluk-Nya.[1]
Pernikahan dalam pandangan Islam adalah sesuatu yang luhur dan sakral, bermakna ibadah kepada Allah, mengikuti Sunnah Rasulullah dan dilaksanakan atas dasar keikhlasan, tanggungjawab, dan mengikuti ketentuan-ketentuan hukum yang harus diindahkan. Pernikahan merupakan sunah nabi Muhammad saw. Sunnah diartikan secara singkat, yaitu mencontohi tindak laku nabi Muhammad saw. Pernikahan diisyaratkan supaya manusia mempunyai keturunan dan keluarga yang sah menuju kehidupan bahagia di dunia dan akhirat, di bawah naungan cinta kasih dan ridha Allah SWT, dan hal ini telah diisyaratkan dari sejak dahulu, dan sudah banyak sekali dijelaskan di dalam al-Qur’an.
Tata cara pernikahan yang benar dan sah telah banyak dijelaskan baik di dalam Al-Qur’an maupun As-sunah, akan tetapi karena adanya budaya dan adat istiadat yang berbeda, maka tata cara pernikahan antara tempat yang satu dengan yang lain bisa saja berbeda, terutama sebagaimana yang kita lihat di Indonesia sendiri. Tatat cara pernikahan di Jawa dan Lombok sangat jauh berbeda. Sebagaimana dalam pembahasan ini, fokus pembahasan saya mengenai tata cara atau tradisi pernikahan di Lombok.
 Indonesia dalam mengatur pernikahan mempunyai dua hukum, yaitu undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam (KHI). Sebagaiman yang kita ketahui bahwa Lombok merupakan penduduknya mayoritas beragama islam dan terkenal dengan Pulau Seribu Masjid. Akan tetapi, sering kita mendengar bahwa masyarakat Lombok melakukan pernikahan dengan cara kawin lari atau kalau di Lombok di kenal dengan istilah Merari’.
Secara etimologis kata Merari’ berasal dari bahasa sasak “berari” atau ”melai’ang” yang artinya adalah berlari atau melarikan. Sehingga merari’ dalam bahasa indonesia di sebut dengan kawin lari. Sedangkan merari’  secara terminologis mengandung dua arti, yaitu arti yang pertama, lari atau melarikan. Dan arti yang kedua yaitu keseluruhan pelaksanaan perkawinan dalam adat sasak. Dengan demikian, adat merari’ adalah melakukan suatu pernikahan dengan membawa lari si calon mempelai perempuan dari rumah orang tuanya tanpa sepengetahuan orang tua dari mempelai perempuan ke tempat si mempelai pria dengan dasar suka sama suka untuk menjadikannya sebagai isteri.[2]
Merarik dalam tradisi masyarakat sasak merupakan suatu tradisi yang sudah dilakukan oleh para nenek moyang sejak dulu dan merupakan warisan turun temurun. Apabila ada yang ingin merubah tradisi tersebut maka tidaklah mungkin karena setiap suku-suku yang ada di Indonesia mempunya budaya-budaya dan adat istiadat mereka masing-masing.
Islam mengatur umatnya dalam melakukan hubungan dengan orang lain dengan sangat detail sehingga umat islam dengan mudah menjalin hubungan dengan orang lain. Adat merarik dalam islam dalam pelaksanannya sangat jauh berbeda dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Contohnya seperti kawin lari (merarik), kalau kita tinjau bahwa kawin lari tidak ada dalam islam dan merupakan perbuatan yang dilarang karena kawin lari bisa disebut juga pencurian. Pencurian dalam islam hukumnya haram dan hukumannya adalah potong tangan sebagaimana yang tertera dalam Al-Qur’an.
Dalam islam merari’ (kawin lari) merupakan tata cara perkawinan yang di larang karena termasuk dalam kategori pencurian dan di dalam islam, mencuri hukumnya haram dan hukumannya adalah potong tangan. Rasulullah juga tidak pernah mengajarkan umatnya melakukan kawin lari. Artinya kawin lari tidak ada dalil yang menganjurkan atau membolehkan untuk kawin lari baik di dalam Al-qur’an maupun As-sunah.
Akan tetapi sebelum kita mengklaim bahwa merari’ (kawin lari) adalah hukumnya haram, kita harus mengetahui terlebih dahulu hukum tata cara pelaksanaan atau tahap-tahap melakukan merari’ (kawin lari), di antaranya yaitu:

1.      Midang
Midang adalah si pria datang kerumah si perempuan untuk melakukan pertemuan dengan si perempuan. Midang biasanya di lakukan di malam hari yang bertujuan untuk mempererat silaturahmi, mereka tidak hanya duduk berdua akan tetapi orang tua si perempuan juga ikut duduk bersama. Menurut saya midang merupakan perbuatan yang baik dan sesuai dengan tuntunan islam bahwa antara laki-laki dan perempuan tidak boleh berdua-duan. 
2.      Memaling
Memaling merupakan inti dari perkawinan. Pengerian memaling seperti yang saya paparkan di atas bahwa memaling merupakan proses kawin lari. Menurut saya kawin lari ini bukanlah hal yang di larang karena tidak ada nash akan tetapi kawin lari telah sesuai dengan maqasihid syari’ah karena di dalamnya terdapat kemaslahatan. Kemaslahatannya yaitu mempermudah bagi pihak laki-laki untuk melakukan pernikahan dan meringankan beban keluarga, baik dari pihak laki-laki maupun perempuan.
3.      Bekawin
Bekawin bisa disebut dengan proses akad nikah. Akad nikah merupakan salah satu dalam rukun nikah, maka hukum bekawin (akad nikah) adalah halal.
4.      Selametan
selametan di dalam islam di sebut dengan walimah al-ursyi. jadi proses selametan ini hukumnya boleh dan halal karena termasuk anjuran syari’ah.
5.      Bekuade/ Nyonkolan
Bekuade/Nyonkolan ini pengertiannya hampir mirip dengan acara resepsi. Bekuade/Nyongkolan adalah seorang mempelai pria dan perempuan datang kerumah mempelai perempuan dengan membawa sajian makanan dan di dampingi atau di iringi oleh para pemuda laksana pengawal yang sedang mengiringi sang raja dan permaisuri. Tradisi bekuade/nyongkolan ini memakai pakain adat sasak. Menurut saya tradisi ini bukanlah tradisi yang bertentangan dengan syari’at islam karena di dalamnya terdapat kemaslahatan, yaitu bertujuan agar para pria dan perempuan yang belum menikah agar cepat menikah dan agar terhindar dari perbuatan dosa atau maksiat.[3]
Maka Setelah tahap-tahap di atas sudah dilakukan mak resmilah menjadi pasangan suami isteri yang sah. Tahap-tahap tersebut merupakan adat istiadat yang ada  di Lombok. Jika kita lihat tahap-tahap tersebut , maka sangatlah jelas bahwa banyak yang tidak ada di hukum islam. Akan tetapi apabila kita tinjau lebih dalam tentang merari’ (kawin lari) merupakan jalan atau metode yang yang harus di tempuh untuk  melansungkan akad nikah. Walaupun melalui proses mencuri, tetapi mempunyai tujuan yang baik dan hal itu sudah jelas di dalam hukum islam, suatu perbuatan yang dilakukan walaupun tidak ada di dalam Al-Qur’an dan Hadits tetapi demi mewujudkan suatu kemaslahatan bersama maka hal itu di perbolehkan.
Dengan demikian tradisi masyarakat sasak di Lombok dengan hukum islam dapat disimpulkan bahwa tidaklah bertentangan karena merari’ (kawin lari) bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan bersama antara keluarga yang laki-laki dan perempuan.
Oleh karena itu, walaupun adat merari’ (kawin lari) kelihatannya berbentangan dengan syri’at islam akan tetapi apaila bila di tinjau lebih mendalam maka hal itu boleh dilakukan karena tujuannya untuk mewujudkan kemaslahatan bersama.



DAFTAR PUSTAKA

Saladin, Bustomi. Juni 2013. Tradisi Merari’ Suku Sasak di Lombok Perspektif Hukum Islam. Jurnal Al-Ahkam.Vol. 8, No. 1.
Tihani, H.M.A, Sahrani, Sohari. 2010. FIQIH MUNAKAT (Kajian Fiqih Nikah Lengkap). Jakarta: Rajawali Pers.
Yasin, M. Nur. 2008. Hukum Perkawinan Islam Sasak. Malang: UIN M


* Essay Terbaik PAB DIKLATSARKUM PSKH 2017 kategori semester II
[1] H.M.A. Tihani, Sohari Sahrani, FIKIH MUNAKAHAT (Kajian Fikih Nikah Lengkap), (Jakarta: Rajawali Pers, 2010) hlm. 6.
[2] M. Nur Yasin, Hukum Perkawinan Islam Sasak, (Malang: UIN Malang Press, 2008) hlm. 150.
[3] Bustami Saladin. Tradisi Merari’ Suku Sasak di Lombok Perspektif Hukum Islam”, Jurnal Al-Ihkam.Vol. 8, No 1 tahun 2013. Download http://ejournal.stainpamekasan.ac.id/index.php/alihkam/article/view/338 akses pada 12 April 2017.

0 comments:

Post a Comment

Copyright © PUSAT STUDI DAN KONSULTASI HUKUM | Powered by Blogger
Design by Viva Themes