Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Wednesday, September 20, 2017

Peristiwa Hijrah dan Pembangunan Kalender Hijriah


Peristiwa Hijrah dan Pembangunan Kalender Hijriah
Oleh : Muhammad Fikri Maulana Nasution[1]
Berawal dari Peristiwa Hijrah
Ketika terbenam matahari di sore hari tanggal 20 September 2017, menjadi pertanda bahwa berakhirnya tahun 1438 H dan berganti menjadi tahun 1439 H. Media sosial, baik facebook, Instragram, BBM, Line, WhatsApp, serta media sosial lainnya, dihiasi dengan doa awal dan akhir tahun serta ucapan selamat tahun baru dengan harapan yang lebih baik. Di berbagai daerah, baik di masjid atau pun musalla umat Islam melakukan kegiatan keagamaan, seperti pengajian, tausiah, membaca doa bersama dan lainnya, dengan harapan Allah memberikan keberkahan yang melimpah pada tahun baru ini.
Hijrah adalah sebuah kata dalam bahasa arab yang artinya pindah. Perpindahan itu terjadi dari satu tempat ke satu tempat lainnya, jika dikaitkan dengan hijrahnya orang Islam, maka hijrah yang dimaksud adalah perpindahan orang Islam dari Mekah ke Madinah. Seperti yang disebutkan, madinah menjadi salah satu tempat tujuan Nabi Muhammad Saw. beserta kaum muslimin setelah terjadinya pemboikotan oleh kaum Quraisy di Mekah[2]. hijrah sudah dilakukan para Sahabat nabi untuk menyelamatkan Iman serta mendapatkan perlindungan sebagaimana diketahui hijrah yang dilakukan pada tahun 7 sebelum Hijrah, di mana para sahabat berangkat menuju Habasyah untuk mendapatkan perlindungan.
Rasulullah keluar meninggalkan rumah pada malam 27 Safar tahun 14 Kenabian, bertepatan dengan 12 atau 13 September 622 M, Beliau singgah di Quba pada Senin, 8 Rabiul Awal tahun 14 dari kenabian, bertepatan dengan 23 September 662 M, seusai salat jumat, 12 Rabiul awal 14 tahun kenabian dan tahun pertama hijrah, Rasulullah memasuki Madinah, dan sejak itulah Yatsrib dinamakan dengan Madinah.[3]
Semangat Hijrah dalam pembentukan Kalender Hijriah
Dalam kalender hijriah dikenal nama-nama bulan Kamariah yang terdiri dari dua belas bulan, yakni : 1. Muharram : Bulan yang disucikan, 2. Safar : Bulan yang dikosongkan, 3. Rabiul Awal : Musim Semi Pertama, 4. Rabiul Akhir (Rabiul Tsani) Musim semi kedua, 5. Jumadil Awal (Jumadil Ula) : Musim kering pertama, 6. Jumadl Akhir( Jumadil Tsani) : Musim kering kedua, 7. Rajab : Bulan pujian, 8. Syakban : Bulan pembagian, 9. Ramadan : Bulan yang sangat panas, 10. Syawal : Bulan Berburu, 11. Zulqoidah : Bulan beristirahat, 12. Zulhijjah : Bulan ziarah. Nama-nama bulan ini sudah ditetapkan oleh Kilab bin Murrah, yaitu kakek ke-6 Nabi Muhammad Saw.[4] namun, belum ada penomoran tahun pada masa itu bahkan sampai Rasulullah wafat.
Penomoran tahun dimulai pada masa Umar bin Khattab, Amirul mukminin kedua Pengganti Abu Bakar Ash-Siddiq. ketika Umar bin Khattab, menerima surat dari Abu Musa al-Ashari dan pada surat itu tidak memiliki tahun, dan Umar bin Khattab pernah menerima surat dari Gubernur Mesir yang hanya menuliskan bulan Syakban saja dan tidak menyantumkan tahun.[5] Sehingga tidak dapat diketahui pada tahun kapan surat ditulis dan dikirimkan maka dirasa perlu adanya penulisan tahun tersebut.
Ali bin Abi Thalib dan sejumlah orang lainnya mengusulkan agar penanggalan dimulai sejak Rasulullah hijrah. Para sahabat memindahkan penanggalan yang seharusnya dimulai pada bulan Rabiul Awal karna pada bulan inilah Rasulullah sampai ke Madinah, ke bulan Muharram dikarenakan niat awal hijrah sudah ada sejak bulan Muharram, yang dibuktikan dengan adanya baiat Aqabah.
Hijriah (Qomariah) atau Masehi (Syamsiyah) yang merupakan tahun baru Islam ?
Menurut Penulis keduanya merupakan penanggalan dan hitungan yang Islami, sebab Allah lah yang menciptakan bulan dan matahari, sebagaimana firman-Nya dalam surah Yunus ayat 5 Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.”. dari ayat ini difahami bahwa bulan dan matahari adalah alat yang Allah sediakan untuk mengetahui bilangan waktu. Pilihan tepat bahwa Islam cendrung pada perhitungan kelander berdasarakan peredaran bulan, karena bulan adalah media yang paling mudah untuk mengetahui waktu, yang di mulai dari sabit, kemudian purnama dan sabit kembali.
Perjalanan hijrah merupakan perjalanan menuju peradaban yang lebih baik, sehingga peristiwa ini merupakan cambuk bagi kita untuk membangun peradaban yang lebih baik, dari bidang hukum, sosial, sains, budaya dan lain sebagainya, serta mewujudkan kalender Islam yang universal yang dapat menyatukan umat Islam dalam satu kalender hijriah. Selamat Tahun Baru Hijriyah(Kamariah) 1439 H, semoga peradaban Islam yang gemilang dapat kita wujudkan sesegera mungkin. Allah ‘Alam Bishawab.



[1] Mahasiswa Perbandingan Mazhab, Fakultas Syari’ah, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Peneliti Ilmu Falak.
[2] Abdurrahman bin Abdul Karim, Kitab Sejarah Nabi Muhammad Saw, (Yogyakarta: Diva Press, 2013), hlm.  154-155Pristiwa
[3] Syaifurrahman al-Mubarakfuri, ar-Rahiq al-Makhtum, Alih Bahasa Agus Suawandi, (Jakarta: Ummul Qura, 2014), hlm. 307-328.
[4] Susiknan Azhari, Ilmu Falak Perjumpaan Khazanah Islam dan Sains Modern cet. III,..hlm, 86. Lihat Thanthawi Jauhari, Jawahir fi Tafsir al-Qur’an al-Karim Juz 5, ( Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2004), III: 121.
[5]  Md. Khair Haji Md. Taib, Takwim Hijriah Khairiah, ( Selangor: Universiti Kebangsaan Malaysia, 1987), hlm. 22.

0 comments:

Post a Comment

Copyright © PUSAT STUDI DAN KONSULTASI HUKUM | Powered by Blogger
Design by Viva Themes